Pages

Minggu, 19 Desember 2010

SANG RAJA DAN ANAK MISKIN

Sendirian saja, orang tidak akan bisa menempuh  jalan  dalam
perjalanan  batinnya.  Kau  tidak  usah  mencoba menempuhnya
sendirian, sebab harus ada  pembimbingmu.  Yang  kita  sebut
raja adalah pembimbing, dan anak miskin itu Si Pencari.

SANTAPAN DARI SORGA

Yunus,  putra  Adam,  pada suatu saat memutuskan untuk tidak
sekedar menyerahkan hidupnya pada nasib, tetapi mencari cara
dan alasan penyediaan kebutuhan manusia.
 
"Aku  manusia,"  katanya  kepada  dirinya  sendiri. "Sebagai
manusia aku mendapat sebagian dari kebutuhan  dunia,  setiap
hari.  Bagian itu aku dapat karena usahaku sendiri, didukung
oleh usaha orang lain juga.  

SI PEMURAH


Ada  seorang  kaya  dan  murah hati yang tinggal di Bokhara.
Karena ia memiliki pangkat tinggi  dalam  hirarki  yang  tak
kelihatan,  ia  dikenal  sebagai  Pemimpin Dunia. Ia membuat
satu syarat  bagi  hadiah  yang  dibagikannya.  Setiap  hari
diberikannya emas kepada segolongan masyarakat --yang sakit,
yang janda, dan selanjutnya. Namun tak  diberikannya  apapun
kepada yang membuka mulut.

SULTAN YANG MENJADI ORANG BUANGAN


Seorang   Sultan   Mesir   konon  mengumpulkan  orang  orang
terpelajar,  dan-seperti  biasanya--timbullah  pertengkaran.
Pokok  masalahnya  adalah  Mikraj  Nabi Muhammad. Dikatakan,
pada kesempatan tersebut Nabi diambil dari tempat  tidurnya,
dibawa  ke  langit.  Selama  waktu  itu ia menyaksikan sorga
neraka, berbicara dengan Tuhan  sembilan  puluh  ribu  kali,
mengalami   pelbagai   kejadian  lain--dan  dikembalikan  ke
kamarnya sementara tempat tidurnya masih hangat.  Kendi  air
yang terguling karena tersentuh Nabi waktu berangkat, airnya
masih belum habis ketika Nabi turun kembali.

SI TOLOL, SI BIJAK, DAN KENDI


Seorang tolol merupakan panggilan  bagi  orang  biasa,  yang
senantiasa  salah  menafsirkan apa yang terjadi atasnya, apa
yang dikerjakannya, atau apa yang dilakukan orang  lain.  Ia
melakukan  semuanya  itu  begitu  meyakinkan  sehingga  bagi
dirinya  dan  orang-orang  semacamnya  segi  kehidupan   dan
pemikiran yang luas tampak masuk akal dan benar.

PETI KUNO NURI BEY


Nuri Bey  adalah  seorang  Albania  yang  suka  tepekur  dan
disegani,  yang  beristrikan  wanita  jauh  lebih  muda dari
dirinya.
 
Suatu malam,  ketika  ia  pulang  lebih  awal  dan  biasanya
seorang pelayan yang setia menghadapnya dan berkata,
 
"Istri Tuan berkelakuan mencurigakan. 

PENYUSUNAN SEJARAH


Konon, ada sebuah kota yang  terdiri  dari  dua  jalan  yang
sejajar. Seorang darwis berjalan lewat salah satu jalan itu,
dan ketika ia mencapai jalan  yang  satu  lagi,  orang-orang
melihat  matanya  berlinang air mata. "Ada yang meninggal di
jalan sebelah itu!"  teriak  seseorang.  Anak-anak  yang  di
sekitar itupun segera mendengar teriakan tersebut.
 Yang  sebenarnya  terjadi  adalah  bahwa  darwis  itu  telah
mengupas bawang.

DI JALAN TEMPAT PEDAGANG WANGI-WANGIAN


Seorang pengais sampah, yang sedang berjalan-jalan di tempat
orang   berjualan    wangi-wangian,    tiba-tiba    terjatuh
seakan-akan   mati.   Orang-orang  berusaha  menghidupkannya
kembali  dengan  bau-bauan  wangi,  namun  keadaannya  malah
semakin parah.
 
Akhirnya seorang bekas pengorek sampah datang; ia mengetahui
keadaan itu. Ia mendekatkan sesuatu  yang  berbau  busuk  di
hidung orang itu, yang segera saja segar kembali, teriaknya,
"Nah, ini dia wangi-wangian!"

PARA PELAYAN DAN RUMAH


Pada zaman dahulu, ada seorang bijaksana dan baik hati, yang
memiliki  sebuah  rumah besar. Dalam perjalanan hidupnya, ia
sering pergi jauh beberapa waktu lamanya.  Kalau  ia  sedang
pergi,  rumah  itu  diserahkan  pemeliharaannya  kepada para
pelayan.

Salah satu  sifat  para pelayan  itu  adalah  pelupa. Sering
mereka  lupa,  mengapa  berada  dalam rumah itu; demikianlah
mereka  menjalankan  kewajibannya  dengan  mengulang-ngulang
yang  sudah  dikerjakan. 

ORANG-ORANG YANG SAMPAI


Imam Al-Ghazali mengisahkan suatu cerita dalam kehidupan Isa
bin Maryam.
 
Pada suatu hari Isa melihat orang-orang  duduk  bersedih  di
sebuah tembok, dipinggir jalan.
 
Tanyanya, "Apa gerangan yang merundungmu semua?"
 
Jawab  mereka,  "Kami menjadi seperti ini lantaran ketakutan
kami menghadapi neraka."

Sabtu, 18 Desember 2010

ORANG YANG BERJALAN DI ATAS AIR


Seorang darwis yang suka berpegang pada kaidah, yang berasal
dari  mazhab sangat saleh, pada suatu hari berjalan menyusur
tepi sungai. Ia memusatkan perhatian pada  pelbagai  masalah
moral  dan ajaran, sebab itulah yang menjadi pokok perhatian
pengajaran  Sufi  dalam  mazhabnya.  Ia   menyamakan   agama
perasaan dengan pencarian Kebenaran mutlak.
 
Tiba-tiba   renungannya   terganggu   oleh  teriakan  keras:
seseorang terdengar mengulang-ngulang suatu ungkapan darwis.
"Tak  ada  gunanya itu," katanya kepada diri sendiri, "sebab
orang   itu   telah   salah    mengucapkannya. 

ORANG YANG MENYADARI KEMATIAN


Konon, ada seorang raja  darwis  yang  berangkat  mengadakan
perjalanan  melalui  laut.  Ketika  penumpang-penumpang lain
memasuki  perahu  satu  demi  satu,  mereka  melihatnya  dan
sebagai lazimnya --merekapun  meminta nasehat kepadanya.
 
Apa yang dilakukan semua darwis tentu sama saja,  yakni  memberi
tahu  orang-orang  itu  hal  yang  itu-itu  juga: darwis itu
tampaknya mengulangi saja salah satu  rumusan  yang  menjadi
perhatian darwis sepanjang masa.

MIMPI DAN IRISAN ROTI


Tiga  orang  musafir  menjadi sahabat dalam suatu perjalanan
yang jauh dan  melelahkan;  mereka  bergembira  dan  berduka
bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama.
 
Setelah  berhari-hari  lamanya  mereka  menyadari bahwa yang
mereka miliki tinggal  sepotong  roti  dan  seteguk  air  di
kendi.  Mereka  pun  bertengkar  tentang  siapa  yang berhak
memakan dan meminum bekal tersebut.  Karena  tidak  berhasil
mencapai  persesuaian  pendapat,  akhirnya mereka memutuskan
untuk membagi saja makanan dan  minuman  itu  menjadi  tiga.
Namun, tetap saja mereka tidak sepakat.

KISAH API


Pada   zaman   dahulu  ada  seorang  yang  merenungkan  cara
bekerjanya   Alam,  dan  karena  ketekunan  dan   percobaan-
percobaannya, akhirnya ia menemukan bagaimana api diciptakan.
 
Orang itu bernama Nur. Ia memutuskan  untuk  berkelana  dari
satu negeri ke lain negeri, menunjukkan kepada rakyat banyak
tentang penemuannya.

BATAS DOGMA


Pada  suatu hari, Sultan Mahmud yang Agung berada dijalan di
Ghazna,  ibu  kota  negerinya.   Dilihatnya   seorang   kuli
mengangkut  beban  berat, yakni sebungkah batu yang didukung
di punggungnya.  Karena  rasa  kasihan  terhadap  kuli  itu,
Mahmud tidak bisa menahan perasaannya, katanya memerintah:
 
"Jatuhkan batu itu, kuli."

ISA DAN ORANG-ORANG BIMBANG


Diceritakan  oleh  Sang  Guru  Jalaludin   Rumi   dan   yang
lain-lain, pada suatu hari Isa, putra Mariam, berjalan-jalan
di padang pasir dekat Baitulmukadis bersama-sama  sekelompok
orang yang masih suka mementingkan diri sendiri.
 
Mereka  meminta dengan sangat agar Isa memberitahukan kepada
mereka  Kata  Rahasia  yang  telah   dipergunakannya   untuk
menghidupkan  orang  mati. Isa berkata, "Kalau kukatakan itu
padamu, kau pasti menyalahgunakannya."

KETIKA AIR BERUBAH


Pada zaman dahulu,  Kidir,  Guru  Musa,  memberi  peringatan
kepada  manusia.  Pada  hari  tertentu,  katanya,  semua air
didunia yang  tidak  disimpan  secara  khusus  akan  lenyap.
Sebagai  gantinya  akan  ada air baru, yang mengubah manusia
menjadi gila.
 
Hanya  seorang  yang  menangkap  makna  peringatan  itu.  Ia
mengumpulkan  air  dan  menyimpannya  di  tempat  yang aman.
Ditunggunya saat yang di sebut-sebut itu.

KEPERLUAN YANG MAKIN MENDESAK


Pada suatu malam seorang  penguasa  tiran  Turkestan  sedang
mendengarkan   kisah-kisah  yang  disampaikan  oleh  seorang
darwis, ketika ia tiba-tiba bertanya tentang Kidir.
 
"Kidir,"  kata  darwis  itu,   "datang   kalau   diperlukan.
Tangkaplah, jubahkan kalau ia muncul, dan segala pengetahuan
menjadi milik Paduka,"
 
"Apakah itu bisa terjadi atas siapapun?"
 
"Siapa pun bisa," kata darwis itu.

BAYAZID DAN ORANG YANG MEMIKIRKAN DIRI SENDIRI


Pada suatu hari, seseorang mengomel kepada Bayazid,  seorang
ahli  mistik pada abad kesembilan, mengatakan bahwa ia telah
berpuasa dan berdoa dan berbuat segalanya selama tiga  puluh
tahun  namun  tidak  juga  menemukan kesenangan seperti yang
digambarkan Bayazid. Bayazid menjawab, orang itu  bisa  saja
melanjutkan   perbuatannya   tiga  ratus  tahun  lagi  tanpa
mendapatkan kesenangan juga.

"Mengapa begitu?" tanya Si Sok-Saleh.

"Sebab kesombonganmu merupakan halangan utama bagimu."
 

Sample text

Sample Text